Eren memulai Rumbling karena ingin menghancurkan ancaman terhadap Pulau Paradis, memberikan kesempatan hidup kepada teman-temannya, dan mengejar kebebasan yang sejak kecil selalu ia dambakan. Namun, tindakannya tidak lahir dari satu alasan sederhana. Keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh kekecewaan Eren terhadap dunia di luar tembok, ingatan masa depan, dan sisi pribadinya yang ingin menghapus dunia yang tidak sesuai dengan harapannya.
Karena itu, Rumbling bukan sekadar strategi perang untuk melindungi Paradis. Peristiwa tersebut merupakan puncak konflik batin Eren sekaligus salah satu keputusan paling tragis dalam Attack on Titan.
Apa Itu Rumbling dalam Attack on Titan?
Rumbling adalah peristiwa ketika ratusan ribu Wall Titan yang tersimpan di dalam tembok Pulau Paradis mulai bergerak. Para Titan berukuran sangat besar tersebut menghasilkan panas ekstrem dan menghancurkan hampir semua benda yang berada di jalur mereka.
Kekuatan itu berasal dari Founding Titan atau Titan Pendiri. Akan tetapi, Eren tidak dapat memakai seluruh kekuatannya secara bebas karena dirinya bukan keturunan keluarga kerajaan.
Untuk mengatasi batasan tersebut, Eren melakukan kontak dengan Zeke Yeager yang memiliki darah kerajaan. Ketika keduanya bertemu di Paths, Eren memperoleh akses kepada Ymir Fritz dan meminta Ymir membuat pilihannya sendiri.
Ymir akhirnya memberikan kekuatan Founding Titan kepada Eren. Setelah itu, tembok-tembok di Paradis runtuh dan Wall Titan mulai bergerak ke berbagai wilayah di luar pulau.
Kenapa Eren Memulai Rumbling?
Jawaban mengenai kenapa Eren memulai Rumbling dapat dibagi menjadi beberapa alasan. Semuanya saling berkaitan, tetapi juga menunjukkan kontradiksi dalam pikiran Eren.
1. Melindungi Pulau Paradis dari kehancuran
Dunia di luar tembok memandang penduduk Paradis sebagai ancaman karena mereka merupakan keturunan Eldia dan memiliki hubungan dengan kekuatan Titan. Marley juga telah menyerang Paradis, mengirim para Warrior, dan berusaha merebut Founding Titan.
Setelah konflik di Liberio, ancaman terhadap Paradis semakin nyata. Negara-negara lain berpotensi bersatu untuk menyerang pulau tersebut sebelum Eren dan pasukannya sempat membangun pertahanan modern.
Eren melihat bahwa diplomasi tidak memberikan jaminan keselamatan. Menurutnya, selama kekuatan militer dunia masih ada, Paradis dan orang-orang yang ia sayangi akan terus berada dalam bahaya.
Rumbling kemudian menjadi jalan paling ekstrem untuk menghapus ancaman itu. Alih-alih hanya menghancurkan armada militer, Eren memilih menyerang hampir seluruh dunia di luar Paradis.
2. Memberikan kesempatan hidup kepada teman-temannya
Eren sangat memedulikan Mikasa, Armin, Jean, Connie, dan teman-temannya. Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya ingin mereka menjalani kehidupan panjang setelah semua peperangan berakhir.
Pada bagian akhir cerita, diketahui bahwa Eren memperkirakan teman-temannya akan mencoba menghentikannya. Jika mereka berhasil membunuh orang yang dianggap sebagai musuh terbesar dunia, mereka dapat muncul sebagai pihak yang menyelamatkan umat manusia.
Rencana tersebut mempunyai kemiripan dengan tindakan pengorbanan diri, tetapi Eren tidak dapat disebut sepenuhnya sebagai korban yang pasif. Ia secara sadar memilih jalan yang membunuh begitu banyak manusia dan memaksa sahabat-sahabatnya menanggung akibat emosionalnya.
Selain itu, tidak semua orang yang ingin ia lindungi berhasil selamat. Hange gugur ketika menghambat pergerakan Wall Titan agar pesawat kelompok Aliansi dapat lepas landas. Sasha juga telah meninggal akibat konflik yang semakin besar setelah serangan di Liberio.
3. Eren kecewa terhadap dunia di luar tembok
Sejak kecil, Eren membayangkan dunia di luar tembok sebagai lambang kebebasan. Ia mengenal lautan, gurun, dan berbagai tempat asing melalui buku yang dibawa Armin.
Namun, ketika akhirnya mengetahui keadaan dunia sebenarnya, Eren tidak menemukan kebebasan yang ia harapkan. Ia menemukan peperangan, diskriminasi terhadap bangsa Eldia, dan masyarakat yang menginginkan kehancuran Paradis.
Kenyataan tersebut membuatnya kecewa. Dunia yang selama ini ia impikan ternyata telah dihuni manusia dengan kebencian, kepentingan politik, dan ketakutan mereka sendiri.
Ketika berbicara dengan Ramzi, Eren mengakui rasa kecewanya dan meminta maaf atas hal yang akan dilakukannya. Adegan itu memperlihatkan bahwa Rumbling bukan hanya keputusan politik. Di dalam dirinya, Eren juga menginginkan dunia yang kosong dan bebas seperti gambaran masa kecilnya.
4. Eren terobsesi dengan kebebasan
Kebebasan merupakan inti karakter Eren sejak awal cerita. Ia membenci tembok karena merasa manusia di dalamnya hidup seperti ternak. Siapa pun yang mencoba merampas kebebasannya akan ia anggap sebagai musuh.
Ironisnya, pengejaran terhadap kebebasan justru membuat Eren menjadi budak dari keinginannya sendiri. Dalam materi promosi resmi bagian terakhir anime, Eren bahkan digambarkan menyebut dirinya sebagai “budak kebebasan”.
Ia ingin bebas, tetapi jalur yang dipilihnya menghancurkan kebebasan dan kehidupan orang lain. Kontradiksi inilah yang membuat keputusan Eren lebih rumit daripada sekadar tindakan seorang pahlawan atau penjahat.
Mengapa Eren Menolak Rencana Zeke?
Zeke mempunyai rencana yang berbeda untuk mengakhiri konflik. Melalui kekuatan Founding Titan, ia ingin membuat seluruh bangsa Eldia tidak dapat mempunyai keturunan. Rencana tersebut dikenal sebagai Euthanasia Plan.
Menurut Zeke, penderitaan akibat Titan akan berakhir apabila bangsa Eldia menghilang secara perlahan. Tidak akan ada generasi baru yang mewarisi kekuatan Titan atau menjadi sasaran kebencian dunia.
Eren hanya berpura-pura mendukung rencana itu agar dapat mencapai Paths bersama Zeke. Pada dasarnya, ia menolak gagasan bahwa bangsa Eldia harus kehilangan hak untuk lahir demi menenangkan dunia.
Bagi Eren, rencana Zeke tetap merampas kebebasan rakyat Paradis. Perbedaannya hanya terletak pada cara pemusnahan dilakukan: Zeke memilih kepunahan perlahan, sedangkan Eren memilih menghancurkan pihak yang dianggap mengancam Paradis.
Mengapa Eren Tidak Memilih Rumbling Terbatas?
Pemerintah Paradis sempat mempertimbangkan Rumbling terbatas. Sejumlah Wall Titan dapat digunakan untuk menghancurkan armada militer dunia dan menunjukkan kekuatan Paradis tanpa memusnahkan masyarakat sipil.
Pilihan tersebut berpotensi memberikan waktu bagi Paradis untuk memperkuat militernya. Namun, rencana ini memerlukan pewarisan Beast Titan kepada Historia dan keturunannya agar kekuatan Founding Titan tetap dapat diaktifkan.
Eren tidak menerima rencana yang menjadikan Historia serta anak-anaknya sebagai alat politik. Ia juga tidak percaya bahwa ancaman Rumbling terbatas dapat menghentikan kebencian dunia untuk jangka panjang.
Meski demikian, penolakan Eren bukan bukti bahwa Rumbling penuh merupakan satu-satunya pilihan. Cerita sengaja memperlihatkan bahwa terdapat beberapa jalan, tetapi semuanya mengandung risiko dan pengorbanan. Eren memilih jalan yang sesuai dengan sifat, ketakutan, dan keinginannya sendiri.
Apakah Eren Sudah Mengetahui Masa Depan?
Eren menerima potongan ingatan masa depan ketika mencium tangan Historia. Hal tersebut terjadi karena Attack Titan dapat mengakses ingatan pewarisnya dari masa yang akan datang.
Akan tetapi, Eren tidak langsung mengetahui seluruh kejadian secara lengkap. Ia melihat bagian-bagian tertentu dari masa depan tanpa selalu memahami konteks, urutan, atau seluruh proses yang membawanya ke sana.
Setelah memperoleh kekuatan Founding Titan, cara Eren mengalami waktu menjadi semakin tidak linear. Masa lalu, masa kini, dan masa depan seolah hadir bersamaan dalam pikirannya.
Keadaan ini memengaruhi tindakannya, tetapi tidak sepenuhnya menghapus tanggung jawabnya. Eren tetap mengakui bahwa dirinya menginginkan hasil tersebut. Dengan kata lain, masa depan yang ia lihat bukan sesuatu yang dilakukan orang lain terhadapnya; masa depan itu tercipta melalui pilihan Eren sendiri.
Apakah Tujuan Eren Hanya Menjadikan Temannya Pahlawan?
Tidak. Penjelasan bahwa Eren memulai Rumbling hanya agar teman-temannya menjadi pahlawan terlalu menyederhanakan akhir cerita.
Eren memang mengetahui bahwa teman-temannya akan melawannya. Keberhasilan mereka menghentikan Rumbling dapat membantu Armin dan para penyintas membuka jalur perundingan dengan dunia yang tersisa.
Namun, Eren juga mengakui bahwa ia ingin meratakan dunia di luar tembok. Bahkan jika ia tidak mengetahui dengan pasti apakah teman-temannya mampu menghentikannya, ia tetap terdorong untuk menjalankan Rumbling.
Jadi, tujuannya terdiri dari kepentingan Paradis, perlindungan terhadap sahabat, keinginan mengakhiri kutukan Titan, dan hasrat pribadinya terhadap kebebasan. Beberapa tujuan itu saling mendukung, sedangkan sebagian lainnya saling bertentangan.
Bagaimana Rumbling Berakhir?
Mikasa, Armin, Levi, Jean, Connie, Reiner, Annie, Pieck, dan sekutu mereka mengejar Eren untuk menghentikan kehancuran. Mereka harus menghadapi berbagai Titan dari masa lalu yang muncul pada tubuh Founding Titan.
Levi akhirnya membunuh Zeke. Tindakan tersebut menghentikan pergerakan Wall Titan, tetapi Eren masih mampu melanjutkan pertarungan dalam bentuk Colossal Titan.
Pada akhirnya, Mikasa memasuki mulut Titan Eren dan memenggal kepalanya. Keputusan Mikasa untuk membunuh orang yang sangat dicintainya menjadi sesuatu yang diperhatikan Ymir Fritz.
Setelah kematian Eren, kekuatan Titan menghilang. Para Eldia yang baru berubah menjadi Titan kembali menjadi manusia, sementara para Titan Shifter kehilangan kemampuan mereka.
Rumbling telah menghancurkan sekitar 80 persen umat manusia. Dunia tidak langsung mencapai perdamaian, tetapi jumlah penduduk dan kekuatan militernya berkurang drastis sehingga Paradis tidak dapat segera dimusnahkan.
Apakah Rencana Eren Berhasil?
Rencana Eren hanya berhasil dalam jangka waktu tertentu. Teman-temannya memperoleh kesempatan untuk hidup tanpa kutukan Titan, sementara Paradis mempunyai waktu untuk membangun pertahanan dan melakukan perundingan.
Namun, Eren tidak berhasil menghapus konflik manusia selamanya. Adegan penutup menunjukkan bahwa Paradis terus memperkuat militernya dan perang kembali terjadi pada masa yang jauh setelah kehidupan para karakter utama.
Hal tersebut menegaskan salah satu pesan penting Attack on Titan: kekuatan besar dapat menunda atau mengubah konflik, tetapi tidak otomatis menghilangkan rasa takut, kebencian, dan perebutan kekuasaan.
Apakah Eren Pahlawan atau Penjahat?
Eren dapat dipahami sebagai protagonis tragis, tetapi tindakannya selama Rumbling tetap merupakan pembantaian massal. Alasan melindungi orang yang dicintainya tidak membatalkan penderitaan korban yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan konflik Paradis.
Dari sudut pandang sebagian penduduk Paradis, Eren adalah penyelamat yang menghancurkan musuh mereka. Sebaliknya, bagi masyarakat di luar pulau, ia merupakan ancaman yang memusnahkan keluarga, kota, dan peradaban mereka.
Cerita tidak memberikan jawaban hitam-putih. Penonton diajak memahami mengapa Eren mengambil keputusan tersebut tanpa harus membenarkan tindakannya.
Kesimpulan
Alasan kenapa Eren memulai Rumbling tidak terbatas pada keinginan menyelamatkan Paradis. Ia juga ingin memberikan kehidupan panjang kepada teman-temannya, menolak pengorbanan Historia, mengakhiri kekuatan Titan, dan memperoleh kebebasan yang selalu ia cari.
Di sisi lain, Eren kecewa karena dunia di luar tembok tidak sesuai dengan impiannya. Ia memilih menghancurkan dunia tersebut meskipun mengetahui bahwa banyak manusia tidak bersalah akan menjadi korban.
Rumbling akhirnya dihentikan oleh Mikasa dan kelompok Aliansi. Kematian Eren mengakhiri kekuatan Titan, tetapi tidak benar-benar menghapus konflik manusia. Akhir tersebut membuat Eren menjadi karakter tragis yang dapat dipahami motivasinya, tetapi tidak mudah dibenarkan tindakannya.
FAQ tentang Eren dan Rumbling
Siapa yang mengaktifkan Rumbling?
Eren Yeager mengaktifkan Rumbling setelah melakukan kontak dengan Zeke di Paths dan memperoleh dukungan Ymir Fritz untuk menggunakan kekuatan Founding Titan.
Apa tujuan utama Rumbling?
Tujuan yang dinyatakan Eren adalah menghancurkan dunia di luar Paradis agar tidak ada lagi kekuatan yang dapat membalas atau menyerang pulau tersebut. Namun, ia juga mempunyai alasan pribadi yang berkaitan dengan kebebasan dan masa depan teman-temannya.
Berapa banyak manusia yang tewas akibat Rumbling?
Pada akhir cerita disebutkan bahwa Rumbling telah memusnahkan sekitar 80 persen umat manusia sebelum kelompok Aliansi berhasil menghentikan Eren.
Mengapa Mikasa harus membunuh Eren?
Eren tidak bersedia menghentikan Rumbling secara sukarela. Mikasa akhirnya membunuhnya untuk menyelamatkan manusia yang masih hidup. Pilihan Mikasa juga membantu Ymir melepaskan keterikatannya sehingga kekuatan Titan menghilang.
Apakah Eren sengaja membiarkan teman-temannya menang?
Eren mengetahui bahwa teman-temannya akan mencoba menghentikannya dan tidak mengambil kebebasan mereka untuk melawan. Namun, ending juga menunjukkan bahwa Eren benar-benar menginginkan Rumbling. Jadi, ia bukan sekadar berpura-pura menjadi musuh tanpa berniat menghancurkan dunia.
